Pembangunan Benteng di Jatinegara
Sejarah
Jatinegara, Medan Pertumpahan Darah Prajurit Inggris, Belanda, dan Prancis
Stasiun Jatinegara.
Nationalgeographic.co.id - Wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, sekarang terkenal sebagai
sentra ekonomi. Sangat mudah mencari segala suvenir, bahan kain, atau batu akik
di sekitar Jatinegara. Namun mungkin tak banyak yang tahu, sebenarnya daerah
ini punya peran penting sebagai pusat pertahanan tentara Belanda untuk menjaga
akses Buitenzorg alias Bogor.
"Dahulu di daerah sini ada benteng. Benteng ini memiliki
fungsi untuk menghalau pasukan Inggris. Sebelum zaman Daendels ada benteng
kecil yang difungsikan sebagai penjara," jelas Penulis Buku Perang
Napoleon di Jawa 1811 dan Buku Misteri Napoleon terbitan Penerbit Buku Kompas,
Jean Rocher dalam acara Komunitas Jelajah Budaya Misteri Napoleon, Gambir,
Minggu (13/1/2019).
Jean mengungkapkan keberadaan benteng tersebut ada pada zaman
pemerintahan Gubernur Jendral Hindia Belanda, Herman Willem Daendels terhitung
dari 1808-1811.
Sebagai informasi, Daendels adalah Belanda yang membelot ke
Perancis. Masa pemerintahan Daendles, Belanda dan koloninya dikuasai Perancis.
Jadi bos Daendels saat itu tak lain adalah Napoleon Bonaparte.
Daendels punya tugas yang lumayan berat saat diutus ke Hindia
Belanda. Selain membenahi kekacauan lantaran korupsi VOC ia harus
mempertahankan Jawa dari serangan Inggris yang saat itu berambisi mengusai
jalur perdagangan dunia, tak terkecuali Hindia Belanda yang kaya akan hasil
alam.
Pasukan Inggris dan koloninya berhasil mendarat di Cilincing
pada 4 Agustus 1811.
"Saat itu Inggris santai sekali mendarat di Cilincing karena
tidak ada penjagaan dari Belanda atau Perancis. Mereka bahkan bisa masuk ke
daerah Kota Tua dan buka tenda segala di depan Gedung Fatahillah sekarang
ini," jelas Pendiri Komunitas Budaya Jakarta, Kartum Setiawan.
Selain pusat pemerintahan Batavia yang dipindah dari Kota Tua ke
daerah Weltevreden (sekarang Jakarta Pusat), Kartum menjelaskan bahwa Belanda
saat itu memang terkenal dengan pertahanan militer yang kurang baik. Alhasil jalan Inggris
terbilang mulus saat melakukan penyerangan. Dengan strategi yang cukup baru,
mereka menyerang pasukan Belanda-Perancis di tengah malam saat lengah.
Pertama daerah Salemba-Matraman menjadi pusat pertempuran.
Lantas bergeser ke daerah Jatinegara. Jatinegara yang dulu
bernama Mester Cornelis jadi lokasi penting karena menjadi akses ke
Buitenzorg alias Bogor. Ada benteng dengan perkiraan Jean dari hasil penelitian
memiliki panjang tujuh kilometer dan luas tiga kilometer. Ada tujuh gerbang
pada benteng tersebut.
"Inggris kembali menyerang di tengah malam, mereka juga menggunakan
strategi baru tidak menyerang dari bagian depan benteng tetapi dari bagian
belakang benteng," jelas Jean.
Akhirnya pada 26 Agustus 1811 daerah Meester Cornelis dikuasai
Inggris. Selanjutnya Inggris memukul mundur tentara Belanda-Perancis ke Bogor
sampai Semarang. Namun sayangnya sama sekali tidak ada sisa
benteng di kawasan Jatinegara. Jean mengatakan penyebabnya bisa jadi dua,
pertama karena pertempuran tersebut terlampau dashyat sehingga menghancurkan
benteng atau memang sisa bangunan benteng dimanfaatkan oleh warga setempat.
"Beberapa waktu saya pernah datang ke Indonesia, ke
Jatinegara ada warga yang menemukan meriam saat membangun fondasi
rumahnya," kata Jean.
Sisa pertempuran dahsyat tersebut tak lain adalah nama jalan di
kawasan Jatinegara. Seperti gudang peluru di pinggir Ciliwung yang diduga kuat
merupakan gudang peluru dan mesiu dari benteng di kawasan Jatinegara. Jalan Pal
Meriam diduga merupakan tempat meriam di benteng.
Ada juga Jalan Rawa Bening yang dulu bernama Rawa Bangke, tak
lain adalah tempat pembuangan mayat para prajurit yang gugur di pertempuran
berdarah Meester Cornelis.
Artikel ini pernah
tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar