Pembangunan
Pangkalan Armada Perang
Angkatan
Laut di Ujung Kulon
Ujung Kulon, Jung Kulon, yang sekarang menjadi
Taman Nasional Ujung Kulon tempat badak bercula satu dan satwa langka
lainnya berada.
Sejarah pernah mencatat, bahwa di masalalu di
Ujung Kulon terdapat peradaban Hindu-budha dengab ditemukannya arca di
sekitaran Ujung Kulon, Panaitan dan Handeuleum.
Ujung Kulon pada masa kolonialisme pernah
tercatat menjadi tujuan pembangunan pangkalan perang, menurut catatan Halwany
Michrob mengenai Pangkalan perang di Ujung Kulon.
Setelah VOC dibubarkan, kemudian segala hal
yang berkaitan dengan hutang piutang dan sebagainya dikuasai Pemerintah Belanda
dengan menyebut Hindia Belanda. Ditunjuklah Deandles.
Pekerjaan pertama Deandles adalah membuat
pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. Untuk itu Daendels memerintahkan kepada
Sultan Banten. untuk mnengirimkan pekerja rodi sebanyak-banyaknya agar
pekerjaan yang direncanakannya cepat telaksana. Akan tetapi karena derahnya
berawa-rawa, banyak pekerja yang mati terkena penyakit malaria. Sehingga banyak
diantara mereka yang melarikan diri. Keadaan ini membuat Daendels marah dan
menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja
itu. Melalui utusan sultan yang datang ke Batavia, Daendels memerintahkan
supaya :
a. Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyatnya setiap hari untuk
dipekeriakan di Ujung Kulon.
b. Sultan harus segera menyerahkan patih Mangkubumi Wargadiraja
ke Batavia.
c. Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer,
karena di Surosowan akan dibangun benteng Belanda.
Sudah tentu tuntutan ini ditolak mentah-mentah
oleh Sultan. Karena permintaannya ditolak maka dengan segera dan secara
sembunyi-sembunyi dikirimlah pasukan dalam jumlah yang besar yang dipimpin
langsung oleh Gubenur Jendral Daendels sendiri ke Banten. Dua hari kemudian
pasukan ini sampai di perbatasan kota. Sebagai pringatan pertama-tama
dikirimlah utusan Komandeur Philip Pieter oleh pihak kolonial Belanda ke istana
Surosowan (Banten) untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan.
Namun karena kebencian rakyat yang sudah
demikian memuncak kepada Belanda, maka utusan belanda tersebut dibunuh di depan
pintu gerbang kraton (Michrob, 1990). Tindakan ini dibalas Daendels dengan
diserangnya Surosowan pada hari ltu juga yakni tanggal 21 Nopember 1808. (Chis,
1881). Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang diluar dugaan,
sehingga sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya. prajurit-prajurit
Sultan dengan keberanian yang mengagumkan berusaha mempertahankan setiap
jengkal tanah airnya.
Tapi akhirnya Daendels dapat meluluh lantahkan
tanah Surosowan hingga menjadi puing-puing berserakan. Surosowan dapat
direbutnya menjadi kekuasaannya. Sultan ditangkap dan diasingkan ke Ambon.
Sedangkan patih Mangkubumi dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke Laut.
Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda.
Tangerang, Jasinga dan Sadang dimasukan ke dalam teritorial Batavia.
Setelah Istana Surosowan hacur lebur maka
diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran Suramanggala,
walaupun masih bergelar sultan, namun kekuasaannya tidak dapat melebihi
kekuasaan sultan pada biasanya karena ia tidak lebih dari seorang pegawal
Belanda. Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa ia hanya mendapatkan gaji 15.000 real setiap
tahun dari pemerintah Belanda. (Sanusi Pane, 1950 b:II). Pengerjaan pembuatan
Pangkalan Angkatan Laut dihentikan karena banyak pekerja yang mati dan sakit
disebabkan daerah proyek Pangkalan tersebut berupa rawa-rawa, maka pekerjaan
pembuatan Pangkalan di Ujung Kulon dipindahkan ke daeah Anyer.
Dalam proses pembuatan pangkalan tersebut
Deandles melakukan tindakan-tindakan yang keras sehingga menambah kebencian
rakyat Banten kepada pemerintahaan Belanda.
Jadi Ujung Kulon pada masalalu dan masa yang
akan datang mungkin akan berubah. Peristiwa besar sejak ribuan tahun yang lalu
pernah terjadi di Ujung Kulon.
*Munawir Syahidi dari Berbagai Sumber







Tidak ada komentar:
Posting Komentar